Jawaban 2: Anomali
Ketika anak buah berprestasi sama dengan datang ancaman baru, karena namanya akan kegeser si anak buah tersebut. Si anak buah yang dianggap tidak seberapa itu akan dapat spotlight dari khalayak dan dielu-elukan, so yang ada adalah atur strategi bagaimana pikiran jahat dan buruk itu tidak menjadi kenyataan. Berbekal power yang dimiliki, ia punya kesempatan menenggelamkan informasi baik tersebut. "No publish, no problems".
Jadi pimpinan yang mindfulness itu sulit ternyata, ga semua orang bisa. Jiwa pemimpin itu juga harus diasah bagaimana ia harus bijakasana, adil, mengayomi, dan yang sangat penting adalah jiwanya sudah selesai sebagai jiwa karyawan.
Ketika pimpinan kok jiwanya masih karyawan, belum bisa move on jadi karyawan maka ia hanya akan tersandera di wilayah karyawan. Dipikirannya, karyawan akan menjadi musuhnya sehingga prestasi karyawan tak membuatnya happy namun sebaliknya. Pikirannya jika karyawan tersebut berprestasi maka sama juga mengancam karier-nya.
Jika pimpinan tersebut dewasa dan bijak, ia akan sadar bahwa ia adalah pimpinan yang ada di puncak tertinggi di dalam organisasi tersebut, sehebat karyawannya-pun ia tetap karyawan. Jika karyawan kok dianggap rival pimpinan, maka pimpinan tersebut perlu bahkan harus dievaluasi. Ada hal yang janggal dari hal tersebut...
Mengapa hal ini bisa terjadi?
Kadang hal ini adalah bentuk rasa ambisi seseorang menjadi pimpinan, namun ia lupa untuk upgrade jiwa kepemimpinannya. Terkesan menjadi seorang pemimpin itu keren, bakal disegani, pendapatan lebih banyak, punya power, dst. Enak ya kesannya?
Menjadi pemimpin yang amanah itu tidak mudah, tantangannya banyak, sikap bijaksana harus dikedepankan, dan ego harus ditekan. Ga lucu kan punya pemimpin yang masih memiliki jiwa karyawan, baperan, manipulatif, menyalahgunakan power, dst.
Hal baik untuk selalu direminder-kan untuk kita semua adalah bahwasanya semua ada masanya. Pimpinan yang sengaja menyalahgunakan power untuk kepentingan perutnya dengan mode playing victim juga akan tiba masanya dimintai tanggung jawab kok. Jika tidak di dunia ya besuk di pengadilan akhirat.
Adakalanya, yang melelahkan saat bekerja itu bukan pekerjaannya namun pimpinannya. Ketika capek mengerjakan tugas, maka istirahat sejenak dapat melemaskan otot yang sempat tegang. Namun jika capek karena menghadapi pimpinan yang memiliki karakteristik NPD maka tidak bisa cukup dengan makan maupun istirahat sejenak.
0 comments:
Post a Comment