Memilih fokus sama diri sendiri dan lebih menghargai diri sendiri adalah langkah dewasa dan bijak setelah sekian lamanya kamu terjebak di zona tidak enakan. Walau prosesnya tidak simpel nyatanya keberhasilan tersebut memberikan dampak yang luar biasa. Tidak lagi peduli dengan drama orang lain, tidak lagi punya kewajiban untuk mendengarkan segala curhat yang bikin muak, dan yang jelas justru punya waktu luang untuk diri sendiri.
Orang lain is orang lain dengan segala egoisnya. Mau ngelak? Manusia itu egois dan penuh taktik di hidupnya, bedanya ada yang tau diri dan tidak aja. Kadarnya saja yang berbeda. Jika kamu ketemu yang ga tau diri ya kamu bakal dimanfaatkan sejauh kamu menguntungkan dya, sebaliknya ga bermanfaat atau ga ada di pihaknya maka boro² chat di balas ya. Ingat, ini real fact.
Orang yang ngejauhi teman baiknya itu banyak faktornya, satu diantaranya karena pemaklumannya sudah ada limit. Setelah sekian panjang perjalanan, selalu ada pemakluman dan kesabaran. Namun lagi² kalo harus maklumin hal² konyol sepanjang waktu maka tidak akan ada orang yang siap. Orang yang sudah mati rasa itu serem, dya ga akan peduli apapun dengan hidup orang yang dituju sekalipun dulu pernah akrab.
Hidup itu saling berganti peran, prinsipnya. Tapi kalo hanya satu sisi dan tidak mau ganti peran ya paet. Maunya dingertiin terus menerus, maunya didengar selalu, maunya direspon baik, dst. Ya kalo cuma maunya begitu tapi ga mau gantian memahami, empati, peduli, dll ya semua akan menghilang dan pergi di waktu terbaiknya.
Gila aja menurutku cerita temen kemarin, dya happy banget karena 80% permasalahan dya nyatanya karena interaksi dengan temannya. Ya satu orang membawa beban berat mentalnya ternyata. Setelah bener² cut off nyatanya hidupnya lebih enteng, ceria, free, menyenangkan, lega, tidak obt, dll. Wooow seperngaruh itu ternyata berkawan dengan orang lain tu.
Dalam obrolan ada sebuah statement yang intinya, "ga se-happy gimana jika aku sudah bebas menjadi tempat sampah, bebas dari drama kolosalnya, berhenti di prank terus menerus, dan yang jelas aku sudah tidak obt karena kisah tidak masuk akalnya". Jika ditarik ke ranah pertemanan, inti dari semua ini adalah pandailah dalam memilih teman. Pastikan dulu dya seperti apa dan bagaimana. Tak lupa biasa aja dalam berteman, tidak perlu berlebihan bahkan terjebak dalam zona tidak enakan. Hussssst...
Kadang orang memilih pergi itu karena sudah tidak dihargai. Segala bentuk curhat mungkin dya masih bisa menampung walo dengan muaknya, namun jika sudah tidak dihargai? Mana ada yang sanggup. Definisi menghargai disini meliputi kalo diajak ngobrol ga malah asyik chat sama orang lain sambil ketawa². Gila aja kan ya, kita lagi seru cerita, dya sibuk main HP. Seolah hidup dan nyawa dya di HP tersebut. Dan part ter-gongnya adalah dya udah baca chat kita tapi memang sengaja ga dibalas aja. Ban*ke kan..
Memilih ngejauh jika kondisi tersebut adalah pilihan bijak karna melindungi mental diri sendiri. Sadar bahwa kita bukan lagi prioritasnya karna kita sudah tidak sejalan dengan pemikirannya. Ga inget tuh pas lagi butuh²nya? Telpon, chat, ketemuan ga inget waktu dan hanya ngomongin masalah yang sama, repeat. Dari kisah ini banyak pelajaran bahwa biasa aja dah berteman dan carilah teman yang tau diri aja.
Setelah sadar bahwa kita hanya dimanfaatkan maka segeralah ambil sikap. Jangan lama² terjebak di kondisi tersebut. Temukan orang2 yang tulus lainnya, eksplor diri lebih banyak, gunakan waktu free mu untuk me time, gunakan waktu sengganggmu untuk menikmati masa kebebasan ini. Sungguh tak ada hal seindah ini, terbebas dari drama orang toxic. Mainkan saja peran di hidupmu, cukup fokus dengan skenario per skenario yang jadi jalan hidupmu. Tutup pintu rapat² untuk orang yang datang hajya karena butuh, dan tetaplah menjadi orang baik yang memiliki sikap untuk bisa tegas sama diri sendiri.