Entradas populares

Melelahkan untuk diingat

Lupakan kejadian menyebalkan menahun itu dan ambil pelajaran berharganya saja. Bahwa tidak semua makhluk di bumi ini berhak mendapatkan waktu, energi, pikiran, serta ketulusan kita. Yaps berjalanlah dan bersikaplah sewajarnya saja. Jika dulu pernah bodo* menganggap dya atau mereka teman baik yang sudah menolong kita lantas kita effort berlebihan untuk membalasnya hingga yang ada malah terjerembab dalam keadaan toxic maka STOP. 

Prinsip, kita harus dan wajib mengingat jasa orang lain di hidup kita, silahkan berbalas budi semampumu meskipun tidak sama persis dengan yang sudah ia berikan. Terpenting dari itu semua adalah niatan baik kita untuk selalu menghargai orang² yang sudah berperan di hidup kita. Sebaliknya jika kita tidak beruntung, tanpa menggunakan logika, hidup dengan denial maka ada kemungkinan kitalah yang akan dimanfaatkan. 

Best learningnya adalah, sewajarnya saja menghadapi manusia. Lagi² karena kamu akan kecewa dengan segala ekspektasi mu. Jika ingat² lagi ngerasa konyol, bodo* karena terjebak ingin membalas kebaikan orang lain. Telpon ga tau waktu, berjam², ga mau tau kondisi kita sedang apa dan bagaimana. Sedangkan telpon ga penting hanya seputaran repeat drama yang diciptakan sendiri namun merasa korban dan butuh validasi. Atas nama "dya pernah menolongku" lantas hal ini dinormalisasi bertahun² hingga limit toleransi. Gila aja diterus-terusin..

Dasarnya manusia ya, kalo udah dibaikin mah malah nglunjak. Satu drama masih berlangsung, muncul drama baru lagi atas nama didzolimi. Yaudah nasehat meluncur hingga mulut berbuza kan ya, eh tau² nya dya happy aja tuh ama musuhnya. Bisa²nya nongki bareng haha hihi... (lah kok terbalik). Oh jadi kalo curhat itu pas lagi musuhan sama temennya, ini dan itu. Tapi setelah reda bestian lagi. Wakkk bertahun² jadi tempat sampah kayak gini. Paet..

Ter-gongnya adalah ketika kamu seolah jadi orang yang tidak pernah mendukung keputusannya. Sedangkan keputusannya adalah hal sesat dan siapapun orangnya yang tau duduk perkaranya pasti 98% akan sependapat bahwa hal itu sangat tidak dibenarkan dari sudut manapun. Monggo saja dah, hidup² lu kan, silahkan tanggung semua resikonya. Jangan kalo ada masalah buang uneg² kesini dan every single day butuh validasi. Maap ye, aku bukan lagi tempat sampah, dan terima kasih sudah menyadarkan aku untuk stop meladenimu.

Fix, dya bukan teman yang baik untukmu. Dya baik, ya tapi bukan yang tepat untukmu. Bye² saja. Gunakan sisa hidupmu untuk berkawan dengan orang yang satu frekuensi saja, yang tidak melelahkan, membuatmu capek, ngebebanin kamu, dan yang jelas carilah teman yang mampu menghargaimu. Ya kali, ketika kamu udah mulai berubah, perlahan  tidak menanggapi curhatan toxic nya, lantas dya sengaja ga balas chat kamu, sengaja sok sibuk, sengaja ini itu. Padahal udah dibaca tuh chat kamu. 

Memang manusia itu lucu ya, syukuri aja atas pertemananmu yang seru ini. Ini hanya satu dari banyaknya teman yang kamu miliki. Jadi kehilangan satu teman toxic its better than kamu bersamanya. Ga kebayang segila apa ya,  tiap hari buang sampah emosi terus menerus, ingin dingertiin, pamer harta, validasi kehebatan, egonya sungguh tinggi. Apapun itu, yuk syukuri karna kamu diselamatkan dari orang yang tidak tepat untukmu, pun sama dya juga diselamatkan dari kamu yang ga suka dramanya, yang tidak bisa jadi minyak drama hidupnya. 


Cukup dan lepaskan

Ya minimal sadar diri, harus tau diri ketika kamu sudah tidak dihargai. Setelah sekian panjang kamu denial dan menganggap dya atau mereka adalah orang baik yang layak kamu beri waktu dan energimu maka sadarlah akan ada masanya untuk STOP. Stop ketika dya hanya datang karena butuh, oke kamu punya toleransi but sampai kapan? Sampai limit dan kamu mau menunggu terkurasnya energimu kah? Atau harus menunggu emosimu acak²an dan butuh konsul ke psikolog? 

Dya ataupun mereka yang sengaja membalas chatmu lama bahkan mengabaikan chatmu. Sedangkan chat kamu sudah dya baca, terlebih orang itu tidak bisa jauh dari HP. Ya kamu harus sadar diri bahwa kamu bukan prioritasnya lagi, chatmu ga penting karena kamu tidak lagi memberikan manfaat untuk hidupnya. Kamu sudah menyadari bahwa kamu sudah tidak bisa menerima curhatan dramanya yang ga akan pernah berakhir itu so inilah konsekuensinya. Sengaja tuh entar² aja dah balas chatmu,. 

Dya ataupun mereka ada di depanmu tapi tidak untuk jiwanya. Kalo dya cerita kamu dengerin secara seksama, tp klo kamu yang cerita? Ah boro² didengerin palingan ditinggal chatingan sama orang lain. Hey kamuuu jangan bod*h ya, cukup². Hargai dirimu dong, skip dan tinggalkan orang macam itu yang tidak dapat menghargai tenaga, pikiran, dan energimu. You deserved better. Bukankah temanmu banyak? Percayalah dya yang kelimpungan kehilangan teman setulus kamu, yaps bukan kamu yang kehilangan teman. Temanmu masih banyaak yang lebih tulus, fair, dan lebih menghargaimu kan,. 

Ngeri lho berhadapan dengan orang tulus, jika tulusnya tidak lagi dihargai jangan harap kamu akan menemukan dya di cerita hidupmu, sebaliknya dya akan menutup pintu rapat² kisahnya sehingga kamu akan sulit mengaksesnya. Jikapun bisa, itu hanya topik umum yang dipilih dya untuk dibahas, tidak untuk the whole of their life. Bayangin dulu aja dah, dulu kamu sedekat nadi, yang apa² tau tiba² sekarang aksesnya ditutup... Seru kan,. 

Hargai siapapun yang hadir di hidupmu, entah dya memberikan manfaat ataupun sebaliknya. Jangan sok merasa paling penting dan layak untuk didengarkan setiap curhatmu. Dya mendengarkan curhatmu karna dya menghargai kamu, namun apa kabar kamu? Sengaja nih dilama²in mbalesnya karena udah ga ada yang bisa dimanfaatkan kan? Ada ternyata jenis manusia macam ini,.

Jika kamu pingin tau, apa sih perasaan orang yang sudah tidak dihargai dan dya punya sikap memilih balik kanan meninggalkanmu? Ketahuilah dya happy dan tenang lho. Orang yang bisa mengharagai orang lain itu temennnya pasti tidak satu atau dua. Jika dya memilih hanya punya close friends sedikit maka itu pilihannya, bukan karena ia tak mampu memiliki banayak teman. Ia PD dan tidak takut kehilangan teman pastinya, terlebih kehilangan teman yang model memanfaatkan gitu. Dengan langkah tegap dya skip ybs. Byeeee. Mentalnya aman dan yang jelas waktunya lebih banyak untuk hal² yang lebih penting termasuk untuk mengurusi dirinya sendiri. 

Muak ternyata ya jika mengingat hal semacam ini, ada banyak rasa penyesalan kenapa ya dulu sebodo* itu menyia²kan waktu dan membuang tenaga untuk menghadapi orang yang aslinya tidak bisa menghargai kita. Nasi sudah jadi bubur, ambil pelajarannya aja deh. Cukup ga mau lagi punya temen begituan. Cukup² dan jaga pertemanan mu yang lain dengan orang² yang selalu ada buatmu, yang tulusnya tanpa perlu tandingan, dan yang pedulinya asli bukan karna ada faktor lainnya. 

Sang koruptor waktu

Seorang lama tergopoh-gopoh siang itu bercerita tentang kemarahannya. Ia menceritakan pengalaman baru yang ia temui. Ada fenomena menarik di setiap pagi para pekerja fokus untuk bisa sampai kantor dengan selamat tanpa telat. Ada yang lintas kecamatan, kelurahan, kota, kabupaten, bahkan lintas propinsi. Bagaimana perasaanmu jika kamu baru tahu bahwa selama ini temenmu curang. Ya dya nembak presensi dari rumahnya. Dengan pengetahuan yang dimiliki tidak semakin membuatnya menjadi orang yang lebih baik tapi sebaliknya. 

Atas nama apapun, ini perbuatan curang. Kerja is kerja. Dunia profesional haruslah tidak dicampuradukkan dengan dunia yang lain. Repot ngurus keluarga? Yakali bergaji tapi ga mau merekrut orang untuk membantunya nganter anaknya misalnya. Alih² pingin semuanya berjalan lancar sehingga menghalalkan segala cara dengan cara nembak presensi. 

Sungguh kenyataan yang membuat hati miris. Disaat para pegawai berjibaku melawan truk pasir, bis besar, kemacetan, eh dya dengan tidak berdosanya nembak presensi dari rumahnya. Caranya? Ada sebuah alat yang dipasangkan di LAN kantor. Jika ini dilakukan oleh orang yang brengs*k mungkin reaksinya akan terasa B aja. Ya, dya yang selalu membawa agama dalam kesehariaan, dya yang apa² berkedok berkah, dya yang selalu memproklamirkan tidak ingin merusak kehidupannua dengan cara "curang" sekalipun ada teman yang membutuhkan bantuannya. Namun lagi² dya manusia biasa nyatanya. 

Tahun berganti tahun aksi tersebut telah dilakukan. Hal ini barulah diendus oleh beberapa orang. Bagaimana jika dunia kantornya tau? Apa tidak semuanya akan menghujatnya? Apa semua orang seraya mendapatkan validasi bahwa dya layak kalo tidak punya teman. 

Benar, bahwa perbuatan dya "tidak semerugikan orang lain" tapi dya sama² koruptor. Ya koruptor waktu. Jahat, licik, egois, dan ga terpikirkan di radar manusia normal lainnya. Naudzubillah.. 

Mencari keseimbangan dalam hidup

When lingkungan kerjamu sudah tidak kondusif, dan kamu dianggap orang bod*h yang tidak tau menau apa yang telah mereka lakukan dari mark-up laporan hingga sounding bahwa "tidak ada bonus" karena keuangan limit, dst..

When kamu dianggap orang yang mudah ditipu paahal kamu punya keahlian membaca perilaku manusia-manusia tega yang selama ini berseliweran di hidupmu..

When kamu selalu dijadikan bahan rujukan, tempat berkeluh kesah atas drama yang terjadi yang seolah jika sudah cerita ke kamu seolah kamu pro sama dya..

When kamu sudah muak dan tidak lagi bisa kompromi atas drama kotor yang ada di matamu..

Disaat yang bersamaan..

Kamu dikasih rejeki luar biasa melalui mahasiswa yang kamu layani. Banyak cerita seru yang dapat menghangatkan hati dan membuatmu tiada henti bersyukur betapa indahnya perjalananmu.

Banyak sekali pengalaman indah yang mereka berikan, banyak senyuman lega dan tatapan penuh harap kamu bisa membantu menyelesaikan permasalahan mereka. Banyak yang merasa terbantu olehmu dan itu menjadikan kenangan indah di hidup mereka.

Pengalaman ini mengajarkanku bahwa berbuat baiklah sebanyak mungkin, bantu orang yang memang membutuhkanmu, tak lupa balut semua dengan penuh keikhlasan. Lupakan jasa yang sudah kamu berikan.  Kita tidak pernah tau doa mereka yang memperlancarkan perjalanan kita. 

Bagi kita mungkin yang kita lakukan adalah hal biasa, namun siapa sangka bagi sebagian orang yang sudah kita bantu itu sangat berkesan dan bisa jadi menjadi salah satu hal indah di hidupnya. Terbayangkan ketika sedang diujung tanduk, lemah, dan tak berdaya ada orang yang tulus membantu kita, memperlancar apa yang menjadi list to do yang harus dilewati hari ini. Meleleh? Bisa jadi..

Ucapan terima kasih, sorot hangat mata, binar wajahnya, pun syarat makna. Andai bisa memeluk, pasti sudah dipeluk. Andai bisa diajak nongkrong, pasti sudah terjadi. Ya hal sederhana yang kita lakukan bahkan tanpa tendesi apapun bahkan kita hanya menjalankan tugas dengan ikhlas bisa membuka ladang pahala dan keberkahan bagi kita.

Jadi, ketika di tempat kerja banyak hal menyebalkan maka cek ulang deh dan ingat2 apakah hal yang indah yang bisa menutupi rasa muak itu? Jika ada maka fokus aja ke hal2 baik melayani mahasiswa misalnya. Biarkan yang kotor tetaplah kotor dan biarkan mereka memanen apa yang dilakukan. Sebaliknya, kita enjoy dengan hal2 baik yang bisa kita lakukan.

Hiduplah dengan baik supaya kamu tenang. Hiduplah dengan damai supaya kamu nyaman. Hiduplah dengan sederhana supaya kamu mudah bersyukur. Hiduplah dengan bijaksana supaya semesta mencintaimu. Serta hiduplah selayaknya manusia yang memiliki hati nurani. 



Ketenangan dari set bounderies

Hal indah apa yang sudah kamu dapatkan di tahun 2025? Mungkin ada yang sudah nikah, mendapatkan pasangan tepat, punya mobil, punya rumah impian, bisa beli barang² branded, dan sejenisnya. Namun bisa tegas dengan diri sendiri adalah pencapaian yang tidak boleh dianggap remeh. Kenapa? Tegas dengan diri sendiri sama dengan mencintai diri sendiri. 

Manusia itu seringnya mementingkan orang lain, mengupayakan kebahagiaan orang lain sampai dya lupa kebahagiaannya bahkan haknya diri sendiri. Terlebih jika sedang terjebak di keadaan maju kena, mundur pun susah. Terlanjur berhubungan baik sama manusia yang lain hingga rasanya susah untuk ngasih bounderies alhasil dirinya hancur sendiri. 

Orang itu kalo udah dibaikin, biasanya nglunjak. Kalo dirasa orang itu solutif dan enak diajak curhat, seringnya ga tanggung² untuk menjadikan ybs tempat sampah untuk membuang uneg². Terlebih jika berhadapan dengan orang yang sangat menghargai jika ada orang yang curhat ke dirinya, wah jika ga beruntung ya hanya dimanfaatkan. 

Okelah dimanfaatkan hingga kewalahan yang berujung mengganggu aktivitas alias curhatnya udah ga tau diri maka solusi terbaik adalah mundur dan ngasih ketegasan pada diri sendiri bahwa sudah cukup. Jika dulu dijadikan call center 911 alias emengency call maka saat ini sudah cukup, tidak berlaku lagi. 

Stop memberi akses kepada orang lain yang tidak mampu menghargaimu. Batasan diri itu sangat penting supaya orang lain dapat menghargai kita. Batas mana yang boleh diakses orang lain dan bagian mana yang tidak boleh. Ya kali seumur hidup akan jadi tempat sampah. 

Jadi tempat sampah itu gpp, karna manusia itu sama² punya sampah namun jika sudah tidak imbang? Kewalahan pastinya. Terlebih jika ketika curhat bilang ABC namun kamu liat di realita XYZ, Jauuuuh. Bagaimana jika itu repeat selama puluhan purnama? Ndembik coy, kayak orang bodoh banget gitu pastinya. 

So, saatnya melepaskan apa yang bukan tanggung jawab kita. Ambil pelajarannya, pilihlah teman yang bisa SALING. Jikapun tidak menemukannya, sendirian itu jauh better than ketemu teman yang egois. Udah curhat ga kenal waktu, dinasehati iya² tp realita berbanding terbalik, giliran kamu curhat ditinggal chatingan sambil senyum² sendiri, dan disaat kamu chat sering ga di balas walo sak tenane chat kamu sudah dibaca. 

Kasihan amat sih, pertemanan bagian mana yang masih harus dipertahankan? Yang paling bener ya buat batasan, sejauh hubungan baik aja sesama manusia. Toh temenmu ga cuma satu kan? Orang² yang peduli sama kamu masih banyak kan? Tak bisiki sini, kamu ga rugi kehilangan temen yang egois, sebaliknya dya yang rugi kehilangan teman setulus kamu. Jika dya belum merasakan, itu hanya waktu saja. Ribuan orang dapat lalu lalang di hidup kita, namun orang tulus akan stay tanpa harus diminta. 

Buscar

 
Healthy Happy and Wealthy Copyright © 2011 | Tema diseñado por: compartidisimo | Con la tecnología de: Blogger